14 Mei 1998, hari yang tidak akan pernah terlupakan. Jakarta rusuh, anarkis, pengrusakan fasilitas umum dan penjarahan menjadi pemandangan yang mengerikan. Buntut dari demonstrasi massa yang menuntut turunnya Soeharto sebagai presiden yang diwarnai dengan tewasnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti.
Beberapa hari menjelang hari-H, kawasan sekitar Istana sudah dipagari dengan beberapa panser dan tentara bersenjata lengkap. Bahkan 2 unit panser diparkir di depan kantor yang kebetulan berada di Jl. Medan Merdeka Barat. Suasana di kantor juga jadi tidak menentu, hampir tidak ada kegiatan, semua pegawai tertuju ke pesawat tv mengikuti perkembangan suasana. Bahkan sebagian besar sudah pulang pada saat jam istirahat.
Saya seperti biasa pulang jam 4 sore, karena angkutan umum lumpuh, terpaksa deh jalan kaki. Di sepanjang Jl. MH. Thamrin banyak orang-orang yang berlarian sambil membawa berbagai macam barang bahkan ada yang pake troli dari arah Jl. Agus Salim (Sabang), kayaknya Ramayana, Robinson dan toko-toko di sekitarnya habis dijarah.
Ternyata hingga bundaran Hotel Indonesia, tidak ada satu pun angkutan umum, akhirnya perjalanan dilanjut menyusuri Jl. Imam Bonjol dan HR. Rasuna Said, Kuningan. Berhubung rame-rame, gak terasa juga perjalanan yang cukup jauh itu. Beruntung, sesampai di perempatan Mampang-Kuningan ada sebuah truk yang bersedia ditumpangi. Bangunan-bangunan yang rusak terbakar, menjadi pemandangan sepanjang perjalanan hingga daerah UKI-Cawang.
Sampai di depan Kampus UKI, kembali terlantar. Aduh, gimana bisa pulang nih, hari sudah menjelang malam. Beruntung ada petugas kepolisian yang mencoba untuk mentralisir keadaan dengan meminta bantuan kepada para pemakai kendaraan pribadi agar bersedia ditumpangi sesuai dengan tujuannya masing-masing. Begitu ada kendaraan yang ke arah Bogor, langsung ikut aja.
Namun ternyata petualangan belum berakhir, ratusan kendaraan yang menuju selatan Jakarta tertahan di gerbang tol Taman Mini. Denger kabar, ada sekelompok massa yang memblokir Tol Jagorawi dan melakukan pemalakan kepada pemakai jalan yang sudah terlanjur masuk tol. Berjam-jam saya dan yang lainnya menunggu di depan Kantor Pusat PT. Jasa Marga dalam keadaan lelah, haus dan lapar, sengsara banget deh. Setelah sekian lama menunggu, ada berita mengejutkan. Massa yang memblokir tol bergerak ke arah Taman Mini. Suasana tambah mencekam, semua yang ada disitu buru-buru memasuki kendaraan dan berusaha untuk menyelamatkan diri dengan memasuki kampung-kampung di sekitar Taman Mini. Syerem dan menegangkan, kayak adegan di film aja.
Menjelang tengah malam, terdengar kabar dari radio, suasana di sepanjang tol Jagorawi sudah terkendali. Akhirnya saya pun bisa pulang, untungnya si empunya mobil ternyata tinggal di Ciluar dan saya pun bisa sampai di rumah dengan selamat, walau dengan suasana hati yang kacau-balau dan kelelahan yang amat sangat.
14 Mei 1998, hari yang tidak akan pernah sekali pun hilang dari ingatan. Hari yang membawa saya di antara hidup dan mati. Alhamdulillah, saya masih bisa menikmati kehidupan hingga detik ini.